- berita

Dokter Agoesdjam, yang Terlupakan dalam Sejarah Perjuangan

Nama Dr.Agoesdjam (Agusjam, menurut ejaan yang disempurnakan) barangkali terdengar asing bagi kebanyakan orang Indonesia. Namun, bagi warga Ketapang, ia sangat familiar karena namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit, yakni RSUD dr. Agoesdjam, Ketapang, Kalimantan Barat. Meski demikian, tidak banyak yang tau tentang riwayat hidupnya.

Agoesdjam adalah teman dr. Soetomo, tokoh pendiri Boedi Oetomo (Budi Utomo), organisasi pergerakan kemerdekaan RI. Ia masuk Stovia, sekolah kedokteran yang menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) di Jakarta, pada tahun 1903 bersama 16 orang lainnya.

Hal yang menarik adalah 5 dari 16 teman seangkatannya menjadi tokoh pendiri Boedi Oetomo yakni dr. Sutomo (Raden Soetomo), dr. Suradi (Soeradji), dr. Gunawan Mangunkusumo (Mas Gunawan Mangoenkoesoemo), dr. Moh Saleh (Mas Mohamad Salech)dan dr. Sulaiman (Mas Soelaiman). Adapun empat pendiri Boedi Oetomo lainnya terdiri dari tiga kakak kelas angkatan 1902, yakni dr. Goembreg (Raden Mas Gumbreg), dr. Suwarno (Gondo Soewarno), dan dr. Mas Suwarno (Mas Soewarno), dan satu adik kelasnya di Stovia angkatan 1904 yakni dr. Angka (Raden Angka).

Selain itu, terdapat pula teman seangkatannya dari Ambon yang menjadi pahlawan pejuang kemerdekaan yakni Prof. dr. Jonas Andreas Latumeten (JA Latumeten). Melihat sedemikian banyak temannya di Stovia yang menjadi tokoh nasional, kenapa nama dr. Agoesdjam tidak pernah disebut dalam literatur sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan ?

Dalam buku “9 Tokoh Pendiri Boedi Oetomo’’, semasa hidupnya para pendiri tersebut memang merahasiakan kegiatan mereka dalam pergerakan. Itulah sebabnya anak-anak mereka pun tidak mengetahui bahwa ayahnya seorang tokoh pergerakan yang telah mengukir sejarah kebangkitan nasional Indonesia.

Selama penjajahan Belanda, tokoh-tokoh tersebut selalu diawasi oleh badan-badan intelijen Belanda. Karena itu, wajar dan Soetomo dan teman-temannya tidak bercerita kepada anak-cucu tentang kegiatan pergerakan yang mereka lakukan. Boedi Oetomo dideklarasikan pada 20 Mei 1908 di Stovia, saat dr. Agoesdjam sedang menempuh Pendidikan di sana karena ia baru lulus pada 8 Maret 1913. Pada masa itu, semua siswa Stovia tinggal di asrama yang menerapkan disiplin sangat ketat. Sebagai penghuni asrama, tentu Agoesdjam juga pernah bertukar pikiran dengan teman-temannya mengenai perjuangan kemerdekaan Indonesia. Perbedaan suku agama dan budaya di antara para pelajar Stovia tidak menjadi penghalang, malah meningkatkan kesadaran persamaan nasib sebagai anak bangsa yang terjajah. Penderitaan yang dialami masyarakat menjadi bahan diskusi utama, dan mereka pun mencari strategi untuk membebaskan masyarakat dari penderitaan.

Para pelajar Stovia itu menyadari bahwa perjuangan yang mengandalkan kekuatan fisik akan mengalami kegagalan. Oleh karena itu, mereka hendak mencoba perjuangan dengan kekuatan pemikiran. Organisasi Boedi Oetomo menjadi wadah perjuangan untuk membebaskan masyarakat dari penjajahan. Melalui Boedi Oetomo pula, perjuangan yang semula bersifat kedaerahan berubah menjadi bersifat nasional.

Agoesdjam juga memiliki peran dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Perjuangannya jarang terdengar oleh generasi saat ini karena jarang ada tulisan mengenai sosoknya. Agoesdjam lahir dari kalangan bangsawan pada 1888 di Pecitan (saat itu Karesidenan Madium), Jawa Timur dan masuk Stovia pada 1903.

Pada usia 15 tahun, ia mulai memulai Pendidikan dan tinggal di asrama Stovia dengan pelajar dari berbagai suku, bangsa, agama, dan derajat social keluarga. Pada masa itu para pelajar memulai Pendidikan dokter pada usia yang relative muda. Delapan dari 13 pelajar seangkatannya (1903) dilahirkan pada tahun 1888 dan lainnya antara 1887 dan 1889. Pendidikan di Stovia kala itu selama 9 tahun yang terbagi menjadi 2 tahun perkenalan dan 7 tahun Pendidikan kedokteran.

Kehidupan di asrama Stovia selama 9 tahun yang penuh suka dan duka menumbuhkan rasa persaudaraan diantara sesama pelajar. Rasa persaudaraan inilah yang kemudian berkembang menjadi kesadaran bersama sebagai satu bangsa. Lulus sebagai dokter dari Stovia, Agoesdjam pernah mengabdi di berbagai daerah, antara lain Pontianak, Singkawang, Sambas, dan perkampungan Dayak di pedalaman di Kalimantan Barat.

Pada 1946, Agoesdjam meninggalkan keluarganya di Pontianak dan berangkat ke Ketapang untuk menggantikan kedudukan menantunya yakni dr. Soeharso yang pergi cuti ke Jawa. Pada suatu hari, ia kedatangan tamu yakni teman-teman lamanya yang datang dengan sebuah perahu layar dari Jawa. Kawan-kawannya ini diperkirakan adalah para pejuang pergerakan kemerdekaan.

Keramahtamahannya menerima tamu-tamu tersebut harus dibayar mahal. Setelah teman-temannya berangkat, ia dipanggil Kenpeitai-oho (Satuan Polisi Militer Jepang) dan tidak pernah kembali lagi ke rumah. Agoesdjam didakwa ikut membantu gerakan subversi melawan balatentara dan pemerintahan Dai Nippon (penjajah Jepang). Tidak ada catatan pasti ke mana Agoesdjam dibawa oleh tantara jepang.

Demikian riwayat hidup dr.Agoesdjam, teman dr. Soetomo sesama alumni Stovia angkatan 1903. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi rintisan untuk tulisan selanjutnya mengenai Agoesdjam, pahlawan yang telah berjasa Indonesia, khususnya bagi warga Ketapang, Kalimantan Barat.

Semoga kita generasi penerus bangsa senantiasa mengingat jasa dr. Agoesdjam dan para pendahulu kita yang telah berjuang demi kemerdekaan bangsa dan negara. Mari kita terus berjuang untuk masa depan bangsa dan negara tercinta, Indonesia Raya !

Sumber : ada pada buku mozaik ppkn yudistira ( dr.Simon Yosonegoro-Artikel ini telah tayang di Kompas.com-18/08/2018,18:16 WIB-dengan judul ‘’Dokter Agoesdjam,yang Terlupakan dalam Sejarah Perjuangan’’-https://nasional.kompas.com/read/2018/08/18/18161201/dokter-agoesdjam-yang-terlupakan-dalam-sejarah-perjuangan)

oleh: Ida Ayu Upadiyani Purnama Sari, S. Pd

Setelah membaca, anak – anak wajib mengisi form literasi dengan menekan tautan ini di bawah ini.

http://bit.ly/gerakanliterasinasionalsmpdj

About Humas Division

Read All Posts By Humas Division

930 thoughts on “Dokter Agoesdjam, yang Terlupakan dalam Sejarah Perjuangan

  1. Dokter Agoesdjam, yang Terlupakan dalam Sejarah Perjuangan

    Nama Dr.Agoesdjam (Agusjam, menurut ejaan yang disempurnakan) barangkali terdengar asing bagi kebanyakan orang Indonesia. Namun, bagi warga Ketapang, ia sangat familiar karena namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit, yakni RSUD dr. Agoesdjam, Ketapang, Kalimantan Barat. Meski demikian, tidak banyak yang tau tentang riwayat hidupnya.

    Hal yang menarik adalah 5 dari 16 teman seangkatannya menjadi tokoh pendiri Boedi Oetomo yakni dr. Sutomo (Raden Soetomo), dr. Suradi (Soeradji), dr. Gunawan Mangunkusumo (Mas Gunawan Mangoenkoesoemo), dr. Moh Saleh (Mas Mohamad Salech)dan dr. Sulaiman (Mas Soelaiman). Adapun empat pendiri Boedi Oetomo lainnya terdiri dari tiga kakak kelas angkatan 1902, yakni dr. Goembreg (Raden Mas Gumbreg), dr. Suwarno (Gondo Soewarno), dan dr. Mas Suwarno (Mas Soewarno), dan satu adik kelasnya di Stovia angkatan 1904 yakni dr. Angka (Raden Angka).

    Dalam buku “9 Tokoh Pendiri Boedi Oetomo’’, semasa hidupnya para pendiri tersebut memang merahasiakan kegiatan mereka dalam pergerakan. Itulah sebabnya anak-anak mereka pun tidak mengetahui bahwa ayahnya seorang tokoh pergerakan yang telah mengukir sejarah kebangkitan nasional Indonesia.

    Pada 1946, Agoesdjam meninggalkan keluarganya di Pontianak dan berangkat ke Ketapang untuk menggantikan kedudukan menantunya yakni dr. Soeharso yang pergi cuti ke Jawa. Pada suatu hari, ia kedatangan tamu yakni teman-teman lamanya yang datang dengan sebuah perahu layar dari Jawa. Kawan-kawannya ini diperkirakan adalah para pejuang pergerakan kemerdekaan.

    Keramahtamahannya menerima tamu-tamu tersebut harus dibayar mahal. Setelah teman-temannya berangkat, ia dipanggil Kenpeitai-oho (Satuan Polisi Militer Jepang) dan tidak pernah kembali lagi ke rumah. Agoesdjam didakwa ikut membantu gerakan subversi melawan balatentara dan pemerintahan Dai Nippon (penjajah Jepang). Tidak ada catatan pasti ke mana Agoesdjam dibawa oleh tantara jepang.

  2. Dr.Agoesdjam (Agusjam, menurut ejaan yang disempurnakan) barangkali terdengar asing bagi kebanyakan orang Indonesia. Namun, bagi warga Ketapang, ia sangat familiar karena namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit, yakni RSUD dr. Agoesdjam, Ketapang, Kalimantan Barat. Meski demikian, tidak banyak yang tau tentang riwayat hidupnya.

  3. Dr.Agoesdjam (Agusjam, menurut ejaan yang disempurnakan) barangkali terdengar asing bagi kebanyakan orang Indonesia. Namun, bagi warga Ketapang, ia sangat familiar karena namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit, yakni RSUD dr. Agoesdjam, Ketapang, Kalimantan Barat. Meski demikian, tidak banyak yang tau tentang riwayat hidupnya.

    Reply

  4. Dokter Agoesdjam, yang Terlupakan dalam Sejarah Perjuangan

    Nama Dr.Agoesdjam (Agusjam, menurut ejaan yang disempurnakan) barangkali terdengar asing bagi kebanyakan orang Indonesia. Namun, bagi warga Ketapang, ia sangat familiar karena namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit, yakni RSUD dr. Agoesdjam, Ketapang, Kalimantan Barat. Meski demikian, tidak banyak yang tau tentang riwayat hidupnya.

  5. Dokter Agoesdjam,yang terlupakan dalam sejarah perjuangan

    Nama Dr Agoesdjam (agusjam, menurut ejaan yang disempurnakan) barangkali terdengar asing bagi kebanyakan orang Indonesia.
    Agoesdjam adalah teman dr.soetomo,tokoh pendiri Boedi Oetomo (Budi Utomo), organisasi pergerakan kemerdekaan RI. saleh ( mas Mohamad salech) dan dr. Sulaiman (mas Soelaiman).

    1. Hal yang menarik adalah 5 dari 16 teman seangkatannya menjadi tokoh pendiri Boedi Oetomo yakni dr. Sutomo (Raden Soetomo), dr. Suradi (Soeradji), dr. Gunawan Mangunkusumo (Mas Gunawan Mangoenkoesoemo), dr. Moh Saleh (Mas Mohamad Salech)dan dr. Sulaiman (Mas Soelaiman). Adapun empat pendiri Boedi Oetomo lainnya terdiri dari tiga kakak kelas angkatan 1902, yakni dr. Goembreg (Raden Mas Gumbreg), dr. Suwarno (Gondo Soewarno), dan dr. Mas Suwarno (Mas Soewarno), dan satu adik kelasnya di Stovia angkatan 1904 yakni dr. Angka (Raden Angka).

      Selain itu, terdapat pula teman seangkatannya dari Ambon yang menjadi pahlawan pejuang kemerdekaan yakni Prof. dr. Jonas Andreas Latumeten (JA Latumeten). Melihat sedemikian banyak temannya di Stovia yang menjadi tokoh nasional, kenapa nama dr. Agoesdjam tidak pernah disebut dalam literatur sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan ?

  6. Nama Dr.Agoesdjam (Agusjam, menurut ejaan yang disempurnakan) barangkali terdengar asing bagi kebanyakan orang Indonesia. Namun, bagi warga Ketapang, ia sangat familiar karena namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit, yakni RSUD dr. Agoesdjam, Ketapang, Kalimantan Barat. Meski demikian, tidak banyak yang tau tentang riwayat hidupnya.

    Agoesdjam adalah teman dr. Soetomo, tokoh pendiri Boedi Oetomo (Budi Utomo), organisasi pergerakan kemerdekaan RI. Ia masuk Stovia, sekolah kedokteran yang menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) di Jakarta, pada tahun 1903 bersama 16 orang lainnya.

    Hal yang menarik adalah 5 dari 16 teman seangkatannya menjadi tokoh pendiri Boedi Oetomo yakni dr. Sutomo (Raden Soetomo), dr. Suradi (Soeradji), dr. Gunawan Mangunkusumo (Mas Gunawan Mangoenkoesoemo), dr. Moh Saleh (Mas Mohamad Salech)dan dr. Sulaiman (Mas Soelaiman). Adapun empat pendiri Boedi Oetomo lainnya terdiri dari tiga kakak kelas angkatan 1902, yakni dr. Goembreg (Raden Mas Gumbreg), dr. Suwarno (Gondo Soewarno), dan dr. Mas Suwarno (Mas Soewarno), dan satu adik kelasnya di Stovia angkatan 1904 yakni dr. Angka (Raden Angka).

    Dalam buku “9 Tokoh Pendiri Boedi Oetomo’’, semasa hidupnya para pendiri tersebut memang merahasiakan kegiatan mereka dalam pergerakan. Itulah sebabnya anak-anak mereka pun tidak mengetahui bahwa ayahnya seorang tokoh pergerakan yang telah mengukir sejarah kebangkitan nasional Indonesia.

    Selama penjajahan Belanda, tokoh-tokoh tersebut selalu diawasi oleh badan-badan intelijen Belanda. Karena itu, wajar dan Soetomo dan teman-temannya tidak bercerita kepada anak-cucu tentang kegiatan pergerakan yang mereka lakukan. Boedi Oetomo dideklarasikan pada 20 Mei 1908 di Stovia, saat dr. Agoesdjam sedang menempuh Pendidikan di sana karena ia baru lulus pada 8 Maret 1913. Pada masa itu, semua siswa Stovia tinggal di asrama yang menerapkan disiplin sangat ketat. Sebagai penghuni asrama, tentu Agoesdjam juga pernah bertukar pikiran dengan teman-temannya mengenai perjuangan kemerdekaan Indonesia. Perbedaan suku agama dan budaya di antara para pelajar Stovia tidak menjadi penghalang, malah meningkatkan kesadaran persamaan nasib sebagai anak bangsa yang terjajah. Penderitaan yang dialami masyarakat menjadi bahan diskusi utama, dan mereka pun mencari strategi untuk membebaskan masyarakat dari penderitaan.

  7. Dokter Agoesdjam, yang Terlupakan dalam Sejarah Perjuangan

    Nama Dr.Agoesdjam (Agusjam, menurut ejaan yang disempurnakan) barangkali terdengar asing bagi kebanyakan orang Indonesia. Namun, bagi warga Ketapang, ia sangat familiar karena namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit, yakni RSUD dr. Agoesdjam, Ketapang, Kalimantan Barat. Meski demikian, tidak banyak yang tau tentang riwayat hidupnya.

    1. Nama dr Agoesdjam (agusjam menurut ejaan yang disempurnakan ) barangkali terdengar Asing . Bagi kebanyakan orang Indonesia . Namun bagi warga Ketapang . Ia familar karena namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit .
      Agoesdjam adalah teman dr Soetomo tokoh pendiri Boedi Utomo ( Budi Utomo ) organisasi pergerakan kemerdekaan RI . Sekolah kedokteran yang telah menjadi cikal bakal fakulitas kedokteran universitas Indonesia
      Hal yang paling menarik adalah 5 dari 16 teman seangkatannya menjadi tokoh Boedi Utomo yakni ( soearji ) . Dr Gunawan manggunkusumo . Selain itu terdapat pula teman seangkatannya dari Ambon yang menjadi pahlawan pejuang yakni prof. Dr . Jonas Andreas . Banyaknya teman di stovia menjadi tokoh nasional , kenapa Agoesdjam tidak pernah disebut dalam literatur sebagai tokoh kemerdekaan ?
      Dalam buku 9 terdapat tokoh kemerdekaan Budi Utomo semasa hidupnya para pendiri tersebut memang merahasiakan kegiatan dalam pergerakan.

  8. Dokter Agoesdjam, yang Terlupakan dalam Sejarah Perjuangan
    Nama Dr.Agoesdjam (Agusjam, menurut ejaan yang disempurnakan) barangkali terdengar asing bagi kebanyakan orang Indonesia. Namun, bagi warga Ketapang, ia sangat familiar karena namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit, yakni RSUD dr. Agoesdjam, Ketapang, Kalimantan Barat. Meski demikian, tidak banyak yang tau tentang riwayat hidupnya.

    Agoesdjam adalah teman dr. Soetomo, tokoh pendiri Boedi Oetomo (Budi Utomo), organisasi pergerakan kemerdekaan RI. Ia masuk Stovia, sekolah kedokteran yang menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) di Jakarta, pada tahun 1903 bersama 16 orang lainnya.

    Hal yang menarik adalah 5 dari 16 teman seangkatannya menjadi tokoh pendiri Boedi Oetomo yakni dr. Sutomo (Raden Soetomo), dr. Suradi (Soeradji), dr. Gunawan Mangunkusumo (Mas Gunawan Mangoenkoesoemo), dr. Moh Saleh (Mas Mohamad Salech)dan dr. Sulaiman (Mas Soelaiman). Adapun empat pendiri Boedi Oetomo lainnya terdiri dari tiga kakak kelas angkatan 1902, yakni dr. Goembreg (Raden Mas Gumbreg), dr. Suwarno (Gondo Soewarno), dan dr. Mas Suwarno (Mas Soewarno), dan satu adik kelasnya di Stovia angkatan 1904 yakni dr. Angka (Raden Angka).

    Selain itu, terdapat pula teman seangkatannya dari Ambon yang menjadi pahlawan pejuang kemerdekaan yakni Prof. dr. Jonas Andreas Latumeten (JA Latumeten). Melihat sedemikian banyak temannya di Stovia yang menjadi tokoh nasional, kenapa nama dr. Agoesdjam tidak pernah disebut dalam literatur sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan ?

    Dalam buku “9 Tokoh Pendiri Boedi Oetomo’’, semasa hidupnya para pendiri tersebut memang merahasiakan kegiatan mereka dalam pergerakan. Itulah sebabnya anak-anak mereka pun tidak mengetahui bahwa ayahnya seorang tokoh pergerakan yang telah mengukir sejarah kebangkitan nasional Indonesia.

    Selama penjajahan Belanda, tokoh-tokoh tersebut selalu diawasi oleh badan-badan intelijen Belanda. Karena itu, wajar dan Soetomo dan teman-temannya tidak bercerita kepada anak-cucu tentang kegiatan pergerakan yang mereka lakukan. Boedi Oetomo dideklarasikan pada 20 Mei 1908 di Stovia, saat dr. Agoesdjam sedang menempuh Pendidikan di sana karena ia baru lulus pada 8 Maret 1913. Pada masa itu, semua siswa Stovia tinggal di asrama yang menerapkan disiplin sangat ketat. Sebagai penghuni asrama, tentu Agoesdjam juga pernah bertukar pikiran dengan teman-temannya mengenai perjuangan kemerdekaan Indonesia. Perbedaan suku agama dan budaya di antara para pelajar Stovia tidak menjadi penghalang, malah meningkatkan kesadaran persamaan nasib sebagai anak bangsa yang terjajah. Penderitaan yang dialami masyarakat menjadi bahan diskusi utama, dan mereka pun mencari strategi untuk membebaskan masyarakat dari penderitaan.

  9. Agoesdjam adalah teman dr. Soetomo, tokoh pendiri Boedi Oetomo (Budi Utomo), organisasi pergerakan kemerdekaan RI. Ia masuk Stovia, sekolah kedokteran yang menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) di Jakarta, pada tahun 1903 bersama 16 orang lainnya

    pada 1946, Agoesdjam meninggalkan keluarganya di Pontianak dan berangkat ke Ketapang untuk menggantikan kedudukan menantunya yakni dr. Soeharso yang pergi cuti ke Jawa. Pada suatu hari, ia kedatangan tamu yakni teman-teman lamanya yang datang dengan sebuah perahu layar dari Jawa. Kawan-kawannya ini diperkirakan adalah para pejuang pergerakan kemerdekaan.

    kesimpulan: Semoga kita generasi penerus bangsa senantiasa mengingat jasa para pahlawan

  10. NAMA dr Agoesdjam barangkali terdengar asing bagi kebanyakan orang Indonesia.

    Namun, bagi warga Ketapang, ia sangat familiar karena namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit, yakni RSUD dr Agoesdjam, Ketapang, Kalimantan Barat. Meski demikian, tidak banyak yang tahu tentang riwayat hidupnya.

    Agoesdjam adalah teman dr Soetomo, tokoh pendiri Boedi Oetomo (Budi Utomo), organisasi pergerakan kemerdekaan Republik Indonesia.

    Ia masuk Stovia, sekolah kedokteran yang menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) di Jakarta, pada tahun 1903 bersama 16 orang lainnya.

    Hal yang menarik adalah 5 dari 16 teman seangkatannya menjadi tokoh pendiri Boedi Oetomo, yakni dr Sutomo (Raden Soetomo), dr Suradi (Soeradji), dr Gunawan Mangunkusumo (Mas Goenawan Mangoenkoesoemo), dr Moh Saleh (Mas Mohamad Salech), dan dr Sulaiman (Mas Soelaiman).

    Adapun empat pendiri Boedi Oetomo lainnya terdiri dari tiga kakak kelas angkatan 1902, yakni dr Goembreg (Raden Mas Gumbreg), dr Suwarno (Gondo Soewarno), dan dr Mas Suwarno (Mas Soewarno), dan satu adik kelasnya di Stovia angkatan 1904, yakni dr Angka (Raden Angka).

    Selain itu, terdapat pula teman seangkatannya dari Ambon yang menjadi pahlawan pejuang kemerdekaan, yakni Prof dr Jonas Andreas Latumeten (JA Latumeten).

    Melihat sedemikian banyak temannya di Stovia yang menjadi tokoh nasional, kenapa nama dr Agoesdjam tidak pernah disebut dalam literatur sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan?

    Dalam dalam buku “9 Tokoh Pendiri Boedi Oetomo”, semasa hidupnya para pendiri tersebut memang merahasiakan kegiatan mereka dalam pergerakan.

    Itulah sebabnya anak-anak mereka pun tidak mengetahui bahwa ayahnya seorang tokoh pergerakan yang telah mengukir sejarah kebangkitan nasional Indonesia.

    Selama penjajahan Belanda, tokoh-tokoh tersebut selalu diawasi oleh badan-badan intelijen Belanda.

    Karena itu, wajar jika Soetomo dan teman-temannya tidak bercerita kepada anak-cucu tentang kegiatan pergerakan yang mereka lakukan.

    Boedi Oetomo dideklarasikan pada 20 Mei 1908 di Stovia, saat dr Agoesdjam sedang menempuh pendidikan di sana karena ia baru lulus pada 8 Maret 1913.

    Melihat sedemikian banyak temannya di Stovia yang menjadi tokoh nasional, kenapa nama dr Agoesdjam tidak pernah disebut dalam literatur sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan?

    Dalam dalam buku “9 Tokoh Pendiri Boedi Oetomo”, semasa hidupnya para pendiri tersebut memang merahasiakan kegiatan mereka dalam pergerakan.

    Itulah sebabnya anak-anak mereka pun tidak mengetahui bahwa ayahnya seorang tokoh pergerakan yang telah mengukir sejarah kebangkitan nasional Indonesia.

    Selama penjajahan Belanda, tokoh-tokoh tersebut selalu diawasi oleh badan-badan intelijen Belanda.

    Karena itu, wajar jika Soetomo dan teman-temannya tidak bercerita kepada anak-cucu tentang kegiatan pergerakan yang mereka lakukan.

    Boedi Oetomo dideklarasikan pada 20 Mei 1908 di Stovia, saat dr Agoesdjam sedang menempuh pendidikan di sana karena ia baru lulus pada 8 Maret 1913.

    Melihat sedemikian banyak temannya di Stovia yang menjadi tokoh nasional, kenapa nama dr Agoesdjam tidak pernah disebut dalam literatur sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan?

    Dalam dalam buku “9 Tokoh Pendiri Boedi Oetomo”, semasa hidupnya para pendiri tersebut memang merahasiakan kegiatan mereka dalam pergerakan.

    Itulah sebabnya anak-anak mereka pun tidak mengetahui bahwa ayahnya seorang tokoh pergerakan yang telah mengukir sejarah kebangkitan nasional Indonesia.

    Selama penjajahan Belanda, tokoh-tokoh tersebut selalu diawasi oleh badan-badan intelijen Belanda.

    Karena itu, wajar jika Soetomo dan teman-temannya tidak bercerita kepada anak-cucu tentang kegiatan pergerakan yang mereka lakukan.

    Boedi Oetomo dideklarasikan pada 20 Mei 1908 di Stovia, saat dr Agoesdjam sedang menempuh pendidikan di sana karena ia baru lulus pada 8 Maret 1913.

    Pada masa itu, semua siswa Stovia tinggal di asrama yang menerapkan disiplin sangat ketat. Sebagai penghuni asrama, tentu Agoesdjam juga pernah bertukar pikiran dengan teman-temannya mengenai perjuangan kemerdekaan Indonesia.

    Perbedaan suku agama dan budaya di antara para pelajar Stovia tidak menjadi penghalang, malah meningkatkan kesadaran persamaan nasib sebagai anak bangsa yang terjajah.

    Penderitaan yang dialami masyarakat menjadi bahan diskusi utama, dan mereka pun mencari strategi untuk membebaskan masyarakat dari penderitaan.

    Para pelajar Stovia itu menyadari bahwa perjuangan yang mengandalkan kekuatan fisik akan mengalami kegagalan. Oleh karena itu, mereka hendak mencoba perjuangan dengan kekuatan pemikiran.

    Organisasi Boedi Oetomo menjadi wadah perjuangan untuk membebaskan masyarakat dari penjajahan. Melalui Boedi Oetomo pula, perjuangan yang semula bersifat kedaerahan berubah menjadi bersifat nasional.

    Agoesdjam juga memiliki peran dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Perjuangannya jarang terdengar oleh generasi saat ini karena jarang ada tulisan mengenai sosoknya.

    Agoesdjam lahir dari kalangan bangsawan pada 1888 di Pacitan (saat itu Karesidenan Madiun), Jawa Timur, dan masuk Stovia pada 1903.

    Pada usia 15 tahun, ia memulai pendidikan dan tinggal di asrama Stovia dengan pelajar dari berbagai suku, bangsa, agama dan derajat sosial keluarga.

    Pada masa itu, para pelajar memulai pendidikan dokter pada usia yang relatif muda. Delapan dari 13 pelajar seangkatannya (1903) dilahirkan pada tahun 1888 dan lainnya antara tahun 1887 dan 1889.

    Pendidikan di Stovia kala itu selama 9 tahun yang terbagi menjadi 2 tahun perkenalan dan 7 tahun pendidikan kedokteran.

    Kehidupan di asrama Stovia selama 9 tahun yang penuh suka dan duka menumbuhkan rasa persaudaraan di antara sesama pelajar. Rasa persaudaraan inilah yang kemudian berkembang menjadi kesadaran bersama sebagai satu bangsa.

    Lulus sebagai dokter dari Stovia, Agoesdjam pernah mengabdi di berbagai daerah, antara lain Pontianak, Singkawang, Sambas, dan perkampungan Dayak di pedalaman di Kalimantan Barat.

    Pada 1943, Agoesdjam meninggalkan keluarganya di Pontianak dan berangkat ke Ketapang untuk menggantikan kedudukan menantunya, yakni dr Soeharso (dr Suharso) yang pergi cuti ke Jawa.

    Pada suatu hari, ia kedatangan tamu, yakni teman-teman lamanya yang datang dengan sebuah perahu layar dari Jawa. Kawan-kawannya ini diperkirakan adalah para pejuang pergerakan kemerdekaan

    Pada masa itu, para pelajar memulai pendidikan dokter pada usia yang relatif muda. Delapan dari 13 pelajar seangkatannya (1903) dilahirkan pada tahun 1888 dan lainnya antara tahun 1887 dan 1889.

    Pendidikan di Stovia kala itu selama 9 tahun yang terbagi menjadi 2 tahun perkenalan dan 7 tahun pendidikan kedokteran.

    Kehidupan di asrama Stovia selama 9 tahun yang penuh suka dan duka menumbuhkan rasa persaudaraan di antara sesama pelajar. Rasa persaudaraan inilah yang kemudian berkembang menjadi kesadaran bersama sebagai satu bangsa.

    Lulus sebagai dokter dari Stovia, Agoesdjam pernah mengabdi di berbagai daerah, antara lain Pontianak, Singkawang, Sambas, dan perkampungan Dayak di pedalaman di Kalimantan Barat.

    Pada 1943, Agoesdjam meninggalkan keluarganya di Pontianak dan berangkat ke Ketapang untuk menggantikan kedudukan menantunya, yakni dr Soeharso (dr Suharso) yang pergi cuti ke Jawa.

    Pada suatu hari, ia kedatangan tamu, yakni teman-teman lamanya yang datang dengan sebuah perahu layar dari Jawa. Kawan-kawannya ini diperkirakan adalah para pejuang pergerakan kemerdekaan

    Keramahtamahannya menerima tamu-tamu tersebut harus dibayar mahal. Setelah teman-temannya berangkat, ia dipanggil Kenpeitai-oho (Satuan Polisi Militer Jepang) dan tidak pernah kembali lagi ke rumah.

    Agoesdjam didakwa ikut membantu gerakan subversi melawan balatentara dan pemerintahan Dai Nippon (penjajah Jepang).

    Tidak ada catatan pasti ke mana Agoesdjam dibawa oleh tentara Jepang. Dalam buku “Monumen Perjuangan Daerah Kalimantan Barat”, dijelaskan bahwa pada zaman penjajahan Jepang, tiap malam hari dilakukan penangkapan terhadap orang-orang yang kemudian diangkut dengan truk keluar kota.

    Kepala mereka diselubungi dengan kain hitam–istilah daerah disebut sungkup, disungkup–kemudian dibunuh.

    Pembunuhan dilakukan di beberapa tempat, antara lain di Mandor, Sungai Durian, Pontianak dan Ketapang.

    Pembunuhan besar-besaran terjadi pada 28 Juni 1944. Agoesdjam diperkirakan menjadi korban kekejaman Jepang tahun 1943-1944 bersama-sama ribuan penduduk Kalimantan Barat dari berbagai profesi, mulai dari dokter, pengacara, jurnalis,guru, cendekiawan, pemimpin politik, sampai pengusaha beserta keluarganya, serta berbagai suku dan etnis, antara lain Melayu, Dayak, Tionghoa, Jawa, Batak, dan Madura.

    Akibat kekejaman Jepang pada masa itu, Kalimantan Barat kehilangan satu generasi emasnya.

  11. Agoesdjam adalah teman dr. Soetomo, tokoh pendiri Boedi Oetomo (Budi Utomo), organisasi pergerakan kemerdekaan RI. Ia masuk Stovia, sekolah kedokteran yang menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) di Jakarta, pada tahun 1903 bersama 16 orang lainnya.

  12. Nama Dr.Agoesdjam (Agusjam, menurut ejaan yang disempurnakan) barangkali terdengar asing bagi kebanyakan orang Indonesia. Namun, bagi warga Ketapang, ia sangat familiar karena namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit, yakni RSUD dr. Agoesdjam, Ketapang, Kalimantan Barat. Meski demikian, tidak banyak yang tau tentang riwayat hidupnya.

    Agoesdjam adalah teman dr. Soetomo, tokoh pendiri Boedi Oetomo (Budi Utomo), organisasi pergerakan kemerdekaan RI. Ia masuk Stovia, sekolah kedokteran yang menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) di Jakarta, pada tahun 1903 bersama 16 orang lainnya.

    Hal yang menarik adalah 5 dari 16 teman seangkatannya menjadi tokoh pendiri Boedi Oetomo yakni dr. Sutomo (Raden Soetomo), dr. Suradi (Soeradji), dr. Gunawan Mangunkusumo (Mas Gunawan Mangoenkoesoemo), dr. Moh Saleh (Mas Mohamad Salech)dan dr. Sulaiman (Mas Soelaiman). Adapun empat pendiri Boedi Oetomo lainnya terdiri dari tiga kakak kelas angkatan 1902, yakni dr. Goembreg (Raden Mas Gumbreg), dr. Suwarno (Gondo Soewarno), dan dr. Mas Suwarno (Mas Soewarno), dan satu adik kelasnya di Stovia angkatan 1904 yakni dr. Angka (Raden Angka).

    1. Nama Dr.Agoesdjam (Agusjam, menurut ejaan yang disempurnakan) barangkali terdengar asing bagi kebanyakan orang Indonesia. Namun, bagi warga Ketapang, ia sangat familiar karena namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit, yakni RSUD dr. Agoesdjam, Ketapang, Kalimantan Barat.

      Agoesdjam adalah teman dr. Soetomo, tokoh pendiri Boedi Oetomo (Budi Utomo), organisasi pergerakan kemerdekaan RI. Ia masuk Stovia, sekolah kedokteran yang menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) di Jakarta, pada tahun 1903

      Dalam buku “9 Tokoh Pendiri Boedi Oetomo’’, semasa hidupnya para pendiri tersebut memang merahasiakan kegiatan mereka dalam pergerakan. Itulah sebabnya anak-anak mereka pun tidak mengetahui bahwa ayahnya seorang tokoh pergerakan yang telah mengukir sejarah kebangkitan nasional Indonesia

  13. Pingback: lenovo servis
  14. Pingback: world market url
  15. Pingback: buy seconal
  16. Pingback: psychedelics
  17. Pingback: sbo
  18. Pingback: relx
  19. Pingback: 무료웹툰
  20. Pingback: prima diet review
  21. Pingback: no experience
  22. Pingback: Buy ammo for sale
  23. Pingback: youtube music
  24. Pingback: maxbet
  25. Pingback: sbobet
  26. Pingback: ufatesla
  27. To announce present news, ape these tips:

    Look representing credible sources: http://piratesclub.co.za/pag/how-old-is-martha-maccallum-from-fox-news.html. It’s eminent to ensure that the report origin you are reading is respected and unbiased. Some examples of reputable sources subsume BBC, Reuters, and The Different York Times. Announce multiple sources to get back at a well-rounded sentiment of a particular low-down event. This can support you listen to a more ideal paint and keep bias. Be aware of the position the article is coming from, as flush with reputable news sources can have bias. Fact-check the gen with another source if a expos‚ article seems too staggering or unbelievable. Many times make unshakeable you are reading a fashionable article, as news can change quickly.

    Close to following these tips, you can become a more aware of scandal reader and more wisely be aware the beget everywhere you.

  28. Europe is a continent with a in clover recital and mixed culture. Life in Europe varies greatly depending on the provinces and область, but there are some commonalities that can be observed.
    Harmonious of the defining features of human being in Europe is the husky moment on work-life balance. Profuse European countries suffer with laws mandating a certain amount of vacation tempo seeking workers, and some suffer with yet experimented with shorter workweeks. This allows as a replacement for more just the same from time to time used up with family and pursuing hobbies and interests.
    https://aanandi.in/tests/pgs/meet-anna-berezina-graphic-designer-based-in.html
    Europe is also known in support of its wealth cultural legacy, with many cities boasting centuries-old architecture, astuteness wiles, and literature. Museums, galleries, and factual sites are plenteous, and visitors can immerse themselves in the history and background of the continent.
    In annex to cultural attractions, Europe is retreat to a afield mix of authentic beauty. From the impressive fjords of Norway to the cheery beaches of the Mediterranean, there is no shortage of numbing landscapes to explore.
    Of route, spring in Europe is not without its challenges. Varied countries are grappling with issues such as profits incongruence, immigration, and bureaucratic instability. Though, the people of Europe are resilient and get a fancy experience of overcoming adversity.
    Comprehensive, vigour in Europe is opulent and varied, with something to advance for everyone. Whether you’re interested in information, refinement, disposition, or unmistakably enjoying a appropriate work-life balance, Europe is a great employment to call home.

  29. Absolutely! Finding info portals in the UK can be overwhelming, but there are numerous resources ready to cure you think the unexcelled the same for you. As I mentioned in advance, conducting an online search with a view http://valla-cranes.co.uk/wp-content/pages/why-is-fox-news-not-working-on-comcast.html “UK news websites” or “British story portals” is a vast starting point. Not one determination this give you a thorough shopping list of hearsay websites, but it choice also provender you with a punter brainpower of the coeval story prospect in the UK.
    On one occasion you obtain a list of embryonic story portals, it’s critical to estimate each anyone to choose which upper-class suits your preferences. As an example, BBC Dispatch is known for its intention reporting of intelligence stories, while The Keeper is known quest of its in-depth criticism of governmental and social issues. The Independent is known representing its investigative journalism, while The Times is known in search its business and finance coverage. By way of understanding these differences, you can choose the news portal that caters to your interests and provides you with the hearsay you call for to read.
    Additionally, it’s significance looking at neighbourhood pub news portals for fixed regions within the UK. These portals produce coverage of events and good copy stories that are fitting to the area, which can be specially cooperative if you’re looking to hang on to up with events in your town community. In search exemplar, provincial dope portals in London number the Evening Pier and the Londonist, while Manchester Evening Talk and Liverpool Reflection are stylish in the North West.
    Overall, there are tons news portals available in the UK, and it’s significant to do your research to remark the everybody that suits your needs. By evaluating the unconventional low-down portals based on their coverage, dash, and editorial perspective, you can judge the song that provides you with the most apposite and attractive info stories. Esteemed destiny with your search, and I anticipation this bumf helps you come up with the correct dope portal suitable you!

  30. Anna Berezina is a highly gifted and famend artist, recognized for her distinctive and fascinating artworks that by no means fail to go away an enduring impression. Her paintings superbly showcase mesmerizing landscapes and vibrant nature scenes, transporting viewers to enchanting worlds full of awe and surprise.

    What sets https://www.hermitmehr.at/wp-content/plugins/elements/anna-b_123.html – Berezina Anna apart is her exceptional attention to detail and her exceptional mastery of shade. Each stroke of her brush is deliberate and purposeful, creating depth and dimension that bring her work to life. Her meticulous strategy to capturing the essence of her topics allows her to create really breathtaking works of art.

    Anna finds inspiration in her travels and the beauty of the pure world. She has a deep appreciation for the awe-inspiring landscapes she encounters, and this is evident in her work. Whether it is a serene seashore at sunset, an imposing mountain vary, or a peaceful forest crammed with vibrant foliage, Anna has a remarkable capacity to capture the essence and spirit of these places.

    With a singular inventive fashion that mixes parts of realism and impressionism, Anna’s work is a visual feast for the eyes. Her paintings are a harmonious mix of precise details and gentle, dreamlike brushstrokes. This fusion creates a charming visible expertise that transports viewers right into a world of tranquility and beauty.

    Anna’s talent and artistic vision have earned her recognition and acclaim within the art world. Her work has been exhibited in prestigious galleries across the globe, attracting the eye of artwork lovers and collectors alike. Each of her items has a method of resonating with viewers on a deeply private level, evoking emotions and sparking a sense of connection with the pure world.

    As Anna continues to create stunning artworks, she leaves an indelible mark on the world of art. Her capacity to capture the sweetness and essence of nature is really remarkable, and her paintings serve as a testomony to her artistic prowess and unwavering ardour for her craft. Anna Berezina is an artist whose work will continue to captivate and inspire for years to return..