- berita

Mewujudkan Mimpi

Pada tahun 1867, hiduplah seorang ahli teknik kelahiran Jerman bernama John Augustus Roebling. Ia bermimpi membangun sebuah jembatan yang menghubungkan Kota New York dan Long Island.

Impian John tidak mendapat dukungan bahkan ditertawakan oleh banyak temannya. Mereka mengganggap proyek itu adalah ide yang paling gila dan impossible di zaman itu.

Maka, John pun hanya bisa berbagi impian dengan anaknya, Washington Roebling. Washington juga seorang ahli teknik. Ayah dan anak itu berjuang bersama untuk mewujudkan impian itu.

Ketika proyek itu baru berjalan beberapa bulan, terjadi kecelakaan yang fatal. Sayangnya, karena pertolongan yang terlambat, John Roebling tidak bisa diselamatkan.

Sedangkan Washington, walaupun nyawanya selamat, tetapi mengalami cedera parah pada kepalanya yang mempengaruhi motoriknya. Washington menjadi lumpuh dan tidak mampu berbicara. Namun demikian, impian ayahnya tentang jembatan tidak pernah padam dalam pikirannya. 

Suatu hari, saat Washington terbaring tidak berdaya di tempat tidurnya, ia melihat cahaya matahari melewati jendela kamarnya, menyilaukan dan menyakitkan mata.

Segera ditutupnya kelopak matanya, dan saat itu pula, seakan Tuhan berbicara dengan pertanda, tiba-tiba muncullah sebuah kesadaran, “Hari ini aku masih bisa menikmati indahnya kilau mentari, artinya, Tuhan masih memberiku waktu untuk berbuat. Dan aku sadar, aku tidak boleh menyerah!”

Dengan sekuat tenaga ia berkonsentrasi penuh dan berusaha untuk menggerakkan satu jarinya. Usaha yang dilakukan berulang-ulang dengan semangat dan konsentrasi penuh, ternyata tidak sia-sia.

Dia berhasil menggerakkan jarinya! Perlahan-lahan, Washington mampu membuat kode untuk berkomunikasi dengan istrinya, Emily, melalui satu jari itu.

Walaupun begitu perlahan pada awalnya, dengan cara seperti itulah, Washington memberi petunjuk kepada Emily untuk melanjutkan pembuatan jembatan.

Semua instruksi diberikan kepada Emily dan kemudian disampaikan lebih lanjut kepada para pekerjanya yang setia membantu mewujudkan impiannya. Begitu berulang-ulang.

Mereka melalui berbagai kendala yang tidak sedikit jumlahnya. Butuh waktu panjang untuk berjuang dengan semua sisa kekuatan dan ketegarannya, dan butuh waktu selama 13 tahun untuk mewujudkan impiannya.

Akhirnya, pada tahun 1883, Jembatan Brooklyn (Brooklyn Bridge) berdiri megah di Kota New York, Amerika Serikat.

Anak – anak..

Cerita di atas merupakan sebuah contoh bahwa pikiran positif dan perjuangan nyata mampu memegang erat mimpi dan bisa mewujudkan apa yang sekiranya tidak mungkin menjadi mungkin.

Betapa luar biasanya kekuatan pikiran manusia. Pikiran manusia bisa membuat hidup menjadi sengsara atau bahagia, gagal atau sukses, biasa-biasa saja atau luar biasa.

Kalau kita mengikuti pikiran yang negatif, maka kehidupan kita isinya akan negatif pula – hidup penuh kecemasan, pasif, ketakutan dan kekurangan.

Namun jika kita mampu mengembangkan pikiran yang positif, optimis, dan senantiasa berpengharapan yang positif, serta punya komitmen tinggi dalam mewujudkan segala impiannya, maka kita akan hidup penuh gairah, syukur, gembira, sukses, dan bahagia… setiap hari.

Mari kita pilih hidup dengan pola pikir yang positif. Kita pilih hidup dengan aktivitas yang positif. Dan kita pilih agar kualitas kita hidup berguna bagi kita dan bagi banyak orang. (https://iphincow.com/2021/02/08/mewujudkan-mimpi/)

Setelah membaca, anak – anak wajib mengisi form literasi dengan menekan tautan ini di bawah ini.

About Humas Division

Read All Posts By Humas Division

1,795 thoughts on “Mewujudkan Mimpi

  1. Mewujudkan Mimpi
    Pada tahun 1867, hiduplah seorang ahli teknik kelahiran Jerman bernama John Augustus Roebling. Ia bermimpi membangun sebuah jembatan yang menghubungkan Kota New York dan Long Island.

    Impian John tidak mendapat dukungan bahkan ditertawakan oleh banyak temannya. Mereka mengganggap proyek itu adalah ide yang paling gila dan impossible di zaman itu.

    Maka, John pun hanya bisa berbagi impian dengan anaknya, Washington Roebling. Washington juga seorang ahli teknik. Ayah dan anak itu berjuang bersama untuk mewujudkan impian itu.

    Ketika proyek itu baru berjalan beberapa bulan, terjadi kecelakaan yang fatal. Sayangnya, karena pertolongan yang terlambat, John Roebling tidak bisa diselamatkan.

    Sedangkan Washington, walaupun nyawanya selamat, tetapi mengalami cedera parah pada kepalanya yang mempengaruhi motoriknya. Washington menjadi lumpuh dan tidak mampu berbicara. Namun demikian, impian ayahnya tentang jembatan tidak pernah padam dalam pikirannya.

    Suatu hari, saat Washington terbaring tidak berdaya di tempat tidurnya, ia melihat cahaya matahari melewati jendela kamarnya, menyilaukan dan menyakitkan mata.

    Segera ditutupnya kelopak matanya, dan saat itu pula, seakan Tuhan berbicara dengan pertanda, tiba-tiba muncullah sebuah kesadaran, “Hari ini aku masih bisa menikmati indahnya kilau mentari, artinya, Tuhan masih memberiku waktu untuk berbuat. Dan aku sadar, aku tidak boleh menyerah!”

    Dengan sekuat tenaga ia berkonsentrasi penuh dan berusaha untuk menggerakkan satu jarinya. Usaha yang dilakukan berulang-ulang dengan semangat dan konsentrasi penuh, ternyata tidak sia-sia.

    Dia berhasil menggerakkan jarinya! Perlahan-lahan, Washington mampu membuat kode untuk berkomunikasi dengan istrinya, Emily, melalui satu jari itu.

    Walaupun begitu perlahan pada awalnya, dengan cara seperti itulah, Washington memberi petunjuk kepada Emily untuk melanjutkan pembuatan jembatan.

    Semua instruksi diberikan kepada Emily dan kemudian disampaikan lebih lanjut kepada para pekerjanya yang setia membantu mewujudkan impiannya. Begitu berulang-ulang.

    Mereka melalui berbagai kendala yang tidak sedikit jumlahnya. Butuh waktu panjang untuk berjuang dengan semua sisa kekuatan dan ketegarannya, dan butuh waktu selama 13 tahun untuk mewujudkan impiannya.

    Akhirnya, pada tahun 1883, Jembatan Brooklyn (Brooklyn Bridge) berdiri megah di Kota New York, Amerika Serikat.

    Anak – anak..

  2. Pada tahun 1867, hiduplah seorang ahli teknik kelahiran Jerman bernama John Augustus Roebling. Ia bermimpi membangun sebuah jembatan yang menghubungkan Kota New York dan Long Island.

    Impian John tidak mendapat dukungan bahkan ditertawakan oleh banyak temannya. Mereka mengganggap proyek itu adalah ide yang paling gila dan impossible di zaman itu.

  3. Pada tahun 1867, hiduplah seorang ahli teknik kelahiran Jerman bernama John Augustus Roebling. Ia bermimpi membangun sebuah jembatan yang menghubungkan Kota New York dan Long Island.

    Impian John tidak mendapat dukungan bahkan ditertawakan oleh banyak temannya.

    Maka, John pun hanya bisa berbagi impian dengan anaknya, Washington Roebling. Washington juga seorang ahli teknik. Ayah dan anak itu berjuang bersama untuk mewujudkan impian itu.

    Ketika proyek itu baru berjalan beberapa bulan, terjadi kecelakaan yang fatal. Sayangnya, karena pertolongan yang terlambat, John Roebling tidak bisa diselamatkan

    Suatu hari, saat Washington terbaring tidak berdaya di tempat tidurnya, ia melihat cahaya matahari melewati jendela kamarnya, menyilaukan dan menyakitkan mata.

    Segera ditutupnya kelopak matanya, dan saat itu pula, seakan Tuhan berbicara dengan pertanda, tiba-tiba muncullah sebuah kesadaran, “Hari ini aku masih bisa menikmati indahnya kilau mentari, artinya, Tuhan masih memberiku waktu untuk berbuat. Dan aku sadar, aku tidak boleh menyerah!”

    Dia berhasil menggerakkan jarinya! Perlahan-lahan, Washington mampu membuat kode untuk berkomunikasi dengan istrinya, Emily, melalui satu jari itu.

    Semua instruksi diberikan kepada Emily dan kemudian disampaikan lebih lanjut kepada para pekerjanya yang setia membantu mewujudkan impiannya. Begitu berulang-ulang.
    Akhirnya, pada tahun 1883, Jembatan Brooklyn (Brooklyn Bridge) berdiri megah di Kota New York, Amerika Serikat.

  4. Mewujudkan Mimpi

    Pada tahun 1867, hiduplah seorang ahli teknik kelahiran Jerman bernama John Augustus Roebling. Ia bermimpi membangun sebuah jembatan yang menghubungkan Kota New York dan Long Island.

    Impian John tidak mendapat dukungan bahkan ditertawakan oleh banyak temannya. Mereka mengganggap proyek itu adalah ide yang paling gila dan impossible di zaman itu.

    Maka, John pun hanya bisa berbagi impian dengan anaknya, Washington Roebling. Washington juga seorang ahli teknik. Ayah dan anak itu berjuang bersama untuk mewujudkan impian itu.

    Ketika proyek itu baru berjalan beberapa bulan, terjadi kecelakaan yang fatal. Sayangnya, karena pertolongan yang terlambat, John Roebling tidak bisa diselamatkan.

    Sedangkan Washington, walaupun nyawanya selamat, tetapi mengalami cedera parah pada kepalanya yang mempengaruhi motoriknya. Washington menjadi lumpuh dan tidak mampu berbicara. Namun demikian, impian ayahnya tentang jembatan tidak pernah padam dalam pikirannya.

  5. Mewujudkan Mimpi
    Pada tahun 1867, hiduplah seorang ahli teknik kelahiran Jerman bernama John Augustus Roebling. Ia bermimpi membangun sebuah jembatan yang menghubungkan Kota New York dan Long Island.

    Impian John tidak mendapat dukungan bahkan ditertawakan oleh banyak temannya. Mereka mengganggap proyek itu adalah ide yang paling gila dan impossible di zaman itu.

    Maka, John pun hanya bisa berbagi impian dengan anaknya, Washington Roebling. Washington juga seorang ahli teknik. Ayah dan anak itu berjuang bersama untuk mewujudkan impian itu.

  6. Mewujudkan Mimpi

    Pada tahun 1867, hiduplah seorang ahli teknik kelahiran Jerman bernama John Augustus Roebling. Ia bermimpi membangun sebuah jembatan yang menghubungkan Kota New York dan Long Island.

    Impian John tidak mendapat dukungan bahkan ditertawakan oleh banyak temannya. Mereka mengganggap proyek itu adalah ide yang paling gila dan impossible di zaman itu.

    Maka, John pun hanya bisa berbagi impian dengan anaknya, Washington Roebling. Washington juga seorang ahli teknik. Ayah dan anak itu berjuang bersama untuk mewujudkan impian itu.

    Ketika proyek itu baru berjalan beberapa bulan, terjadi kecelakaan yang fatal. Sayangnya, karena pertolongan yang terlambat, John Roebling tidak bisa diselamatkan.

    Sedangkan Washington, walaupun nyawanya selamat, tetapi mengalami cedera parah pada kepalanya yang mempengaruhi motoriknya. Washington menjadi lumpuh dan tidak mampu berbicara. Namun demikian, impian ayahnya tentang jembatan tidak pernah padam dalam pikirannya.

  7. Pada tahun 1867, hiduplah seorang ahli teknik kelahiran Jerman bernama John Augustus Roebling. Ia bermimpi membangun sebuah jembatan yang menghubungkan Kota New York dan Long Island.

    Impian John tidak mendapat dukungan bahkan ditertawakan oleh banyak temannya.

    Maka, John pun hanya bisa berbagi impian dengan anaknya, Washington Roebling. Washington juga seorang ahli teknik. Ayah dan anak itu berjuang bersama untuk mewujudkan impian itu.

    Ketika proyek itu baru berjalan beberapa bulan, terjadi kecelakaan yang fatal. Sayangnya, karena pertolongan yang terlambat, John Roebling tidak bisa diselamatkan

    Suatu hari, saat Washington terbaring tidak berdaya di tempat tidurnya, ia melihat cahaya matahari melewati jendela kamarnya, menyilaukan dan menyakitkan mata.

    Segera ditutupnya kelopak matanya, dan saat itu pula, seakan Tuhan berbicara dengan pertanda, tiba-tiba muncullah sebuah kesadaran, “Hari ini aku masih bisa menikmati indahnya kilau mentari, artinya, Tuhan masih memberiku waktu untuk berbuat. Dan aku sadar, aku tidak boleh menyerah!”

    Dia berhasil menggerakkan jarinya! Perlahan-lahan, Washington mampu membuat kode untuk berkomunikasi dengan istrinya, Emily, melalui satu jari itu.

    Semua instruksi diberikan kepada Emily dan kemudian disampaikan lebih lanjut kepada para pekerjanya yang setia membantu mewujudkan impiannya. Begitu berulang-ulang.
    Akhirnya, pada tahun 1883, Jembatan Brooklyn (Brooklyn Bridge) berdiri megah di Kota New York, Amerika Serikat.

  8. Pada tahun 1867, hiduplah seorang ahli teknik kelahiran Jerman bernama John Augustus Roebling. Ia bermimpi membangun sebuah jembatan yang menghubungkan Kota New York dan Long Island.

    Impian John tidak mendapat dukungan bahkan ditertawakan oleh banyak temannya. Mereka mengganggap proyek itu adalah ide yang paling gila dan impossible di zaman itu.

    Maka, John pun hanya bisa berbagi impian dengan anaknya, Washington Roebling. Washington juga seorang ahli teknik. Ayah dan anak itu berjuang bersama untuk mewujudkan impian itu.

    Ketika proyek itu baru berjalan beberapa bulan, terjadi kecelakaan yang fatal. Sayangnya, karena pertolongan yang terlambat, John Roebling tidak bisa diselamatkan.

    Sedangkan Washington, walaupun nyawanya selamat, tetapi mengalami cedera parah pada kepalanya yang mempengaruhi motoriknya. Washington menjadi lumpuh dan tidak mampu berbicara. Namun demikian, impian ayahnya tentang jembatan tidak pernah padam dalam pikirannya.

    Suatu hari, saat Washington terbaring tidak berdaya di tempat tidurnya, ia melihat cahaya matahari melewati jendela kamarnya, menyilaukan dan menyakitkan mata.

    Segera ditutupnya kelopak matanya, dan saat itu pula, seakan Tuhan berbicara dengan pertanda, tiba-tiba muncullah sebuah kesadaran, “Hari ini aku masih bisa menikmati indahnya kilau mentari, artinya, Tuhan masih memberiku waktu untuk berbuat. Dan aku sadar, aku tidak boleh menyerah!”

    Dengan sekuat tenaga ia berkonsentrasi penuh dan berusaha untuk menggerakkan satu jarinya. Usaha yang dilakukan berulang-ulang dengan semangat dan konsentrasi penuh, ternyata tidak sia-sia.

    Dia berhasil menggerakkan jarinya! Perlahan-lahan, Washington mampu membuat kode untuk berkomunikasi dengan istrinya, Emily, melalui satu jari itu.

    Walaupun begitu perlahan pada awalnya, dengan cara seperti itulah, Washington memberi petunjuk kepada Emily untuk melanjutkan pembuatan jembatan.

  9. Mewujudkan Mimpi
    Pada tahun 1867, hiduplah seorang ahli teknik kelahiran Jerman bernama John Augustus Roebling. Ia bermimpi membangun sebuah jembatan yang menghubungkan Kota New York dan Long Island.

    Impian John tidak mendapat dukungan bahkan ditertawakan oleh banyak temannya. Mereka mengganggap proyek itu adalah ide yang paling gila dan impossible di zaman itu.

    Maka, John pun hanya bisa berbagi impian dengan anaknya, Washington Roebling. Washington juga seorang ahli teknik. Ayah dan anak itu berjuang bersama untuk mewujudkan impian itu.

    Ketika proyek itu baru berjalan beberapa bulan, terjadi kecelakaan yang fatal. Sayangnya, karena pertolongan yang terlambat, John Roebling tidak bisa diselamatkan.

    Sedangkan Washington, walaupun nyawanya selamat, tetapi mengalami cedera parah pada kepalanya yang mempengaruhi motoriknya. Washington menjadi lumpuh dan tidak mampu berbicara. Namun demikian, impian ayahnya tentang jembatan tidak pernah padam dalam pikirannya.

    Suatu hari, saat Washington terbaring tidak berdaya di tempat tidurnya, ia melihat cahaya matahari melewati jendela kamarnya, menyilaukan dan menyakitkan mata.

    Segera ditutupnya kelopak matanya, dan saat itu pula, seakan Tuhan berbicara dengan pertanda, tiba-tiba muncullah sebuah kesadaran, “Hari ini aku masih bisa menikmati indahnya kilau mentari, artinya, Tuhan masih memberiku waktu untuk berbuat. Dan aku sadar, aku tidak boleh menyerah!”

    Dengan sekuat tenaga ia berkonsentrasi penuh dan berusaha untuk menggerakkan satu jarinya. Usaha yang dilakukan berulang-ulang dengan semangat dan konsentrasi penuh, ternyata tidak sia-sia.

    Dia berhasil menggerakkan jarinya! Perlahan-lahan, Washington mampu membuat kode untuk berkomunikasi dengan istrinya, Emily, melalui satu jari itu.

    Walaupun begitu perlahan pada awalnya, dengan cara seperti itulah, Washington memberi petunjuk kepada Emily untuk melanjutkan pembuatan jembatan.

    Semua instruksi diberikan kepada Emily dan kemudian disampaikan lebih lanjut kepada para pekerjanya yang setia membantu mewujudkan impiannya. Begitu berulang-ulang.

    Mereka melalui berbagai kendala yang tidak sedikit jumlahnya. Butuh waktu panjang untuk berjuang dengan semua sisa kekuatan dan ketegarannya, dan butuh waktu selama 13 tahun untuk mewujudkan impiannya.

    Akhirnya, pada tahun 1883, Jembatan Brooklyn (Brooklyn Bridge) berdiri megah di Kota New York, Amerika Serikat.

  10. Mewujudkan mimpi
    Pada tahun 1867, hiduplah seorang ahli teknik kelahiran Jerman bernama Jhon augustus roebling. Ia bermimpi membangun kan sebuah jembatan penghubung anatar kota new York dan long island.
    Impian Jhon tidak mendapatkan dukungan dan ditertawakan oleh banyak temennya. Mereka menganggap Proyek itu adalah ide yang paling gila dan impossible pada zaman itu.

  11. Pingback: World Market URL
  12. Pingback: home design 2022
  13. Pingback: Darknet Links
  14. Pingback: world market link
  15. Pingback: look at this now
  16. Pingback: buy glock
  17. Pingback: kardinal stick
  18. Pingback: mega888
  19. Pingback: relx
  20. Pingback: sbo
  21. Pingback: linked here
  22. Pingback: over here
  23. Pingback: carding site 2022
  24. Pingback: good cvv store
  25. Pingback: handyman
  26. Pingback: mp45 shield
  27. Pingback: Wasabi Wallet
  28. Pingback: cart battery
  29. Pingback: buy sandexa online
  30. Pingback: HoyleCohen
  31. Pingback: 영화 사이트
  32. Pingback: clenbuterol achat
  33. Anna Berezina is a extremely gifted and famend artist, known for her unique and charming artworks that by no means fail to depart a lasting impression. Her work beautifully showcase mesmerizing landscapes and vibrant nature scenes, transporting viewers to enchanting worlds crammed with awe and marvel.

    What units http://stovespareparts.ie/wp-content/pages/anna-b_125.html – Berezina apart is her distinctive attention to element and her exceptional mastery of shade. Each stroke of her brush is deliberate and purposeful, creating depth and dimension that convey her work to life. Her meticulous method to capturing the essence of her topics permits her to create truly breathtaking artworks.

    Anna finds inspiration in her travels and the great point about the pure world. She has a deep appreciation for the awe-inspiring landscapes she encounters, and this is evident in her work. Whether it is a serene seaside at sundown, an imposing mountain range, or a peaceable forest filled with vibrant foliage, Anna has a outstanding capacity to capture the essence and spirit of those places.

    With a singular inventive fashion that mixes components of realism and impressionism, Anna’s work is a visual feast for the eyes. Her work are a harmonious mix of exact details and delicate, dreamlike brushstrokes. This fusion creates a charming visual expertise that transports viewers right into a world of tranquility and beauty.

    Anna’s expertise and artistic imaginative and prescient have earned her recognition and acclaim within the art world. Her work has been exhibited in prestigious galleries across the globe, attracting the attention of artwork fanatics and collectors alike. Each of her pieces has a method of resonating with viewers on a deeply private level, evoking feelings and sparking a sense of reference to the natural world.

    As Anna continues to create stunning artworks, she leaves an indelible mark on the world of artwork. Her ability to capture the beauty and essence of nature is actually exceptional, and her work serve as a testament to her creative prowess and unwavering ardour for her craft. Anna Berezina is an artist whose work will proceed to captivate and inspire for years to come back..

  34. I do trust all the ideas you have introduced in your post.
    They’re very convincing and can definitely work. Still, the posts are too quick for novices.
    Could you please prolong them a bit from subsequent time?
    Thanks for the post.

  35. Hi there, just became alert to your blog through Google, and found that it is really informative. I am going to watch out for brussels. I’ll appreciate if you continue this in future. Lots of people will be benefited from your writing. Cheers!

  36. Claritox Pro™ is a natural dietary supplement that is formulated to support brain health and promote a healthy balance system to prevent dizziness, risk injuries, and disability. This formulation is made using naturally sourced and effective ingredients that are mixed in the right way and in the right amounts to deliver effective results. https://claritoxprobuynow.us/

  37. Cortexi is a completely natural product that promotes healthy hearing, improves memory, and sharpens mental clarity. Cortexi hearing support formula is a combination of high-quality natural components that work together to offer you with a variety of health advantages, particularly for persons in their middle and late years. Cortexi not only improves hearing but also decreases inflammation, eliminates brain fog, and gives natural memory protection. https://cortexibuynow.us/

  38. EndoPump is a dietary supplement for men’s health. This supplement is said to improve the strength and stamina required by your body to perform various physical tasks. Because the supplement addresses issues associated with aging, it also provides support for a variety of other age-related issues that may affect the body. https://endopumpbuynow.us/

  39. Kerassentials are natural skin care products with ingredients such as vitamins and plants that help support good health and prevent the appearance of aging skin. They’re also 100% natural and safe to use. The manufacturer states that the product has no negative side effects and is safe to take on a daily basis. Kerassentials is a convenient, easy-to-use formula. https://kerassentialsbuynow.us/

  40. Glucofort Blood Sugar Support is an all-natural dietary formula that works to support healthy blood sugar levels. It also supports glucose metabolism. According to the manufacturer, this supplement can help users keep their blood sugar levels healthy and within a normal range with herbs, vitamins, plant extracts, and other natural ingredients. https://glucofortbuynow.us/

  41. Illuderma is a serum designed to deeply nourish, clear, and hydrate the skin. The goal of this solution began with dark spots, which were previously thought to be a natural symptom of ageing. The creators of Illuderma were certain that blue modern radiation is the source of dark spots after conducting extensive research. https://illudermabuynow.us/

  42. LeanBiome is also unique in that it is caffeine-free, making it a safe and effective choice for those who are sensitive to caffeine. The product is easy to incorporate into your daily routine and can be taken with or without food. With regular use, LeanBiome can help to support healthy weight loss, reduce belly fat, and improve overall gut health.

  43. Sumatra Slim Belly Tonic is a unique weight loss supplement that sets itself apart from others in the market. Unlike other supplements that rely on caffeine and stimulants to boost energy levels, Sumatra Slim Belly Tonic takes a different approach. It utilizes a blend of eight natural ingredients to address the root causes of weight gain. By targeting inflammation and improving sleep quality, Sumatra Slim Belly Tonic provides a holistic solution to weight loss. These natural ingredients not only support healthy inflammation but also promote better sleep, which are crucial factors in achieving weight loss goals. By addressing these underlying issues, Sumatra Slim Belly Tonic helps individuals achieve sustainable weight loss results.

  44. Great beat ! I would like to apprentice while you amend your website, how
    could i subscribe for a weblog website? The account helped me a
    acceptable deal. I had been tiny bit familiar of this your broadcast offered brilliant transparent concept