

Gemuruh tabuh dan sorak penonton menggema mengiringi dimulainya pawai ogoh-ogoh Yayasan Dwijendra Denpasar. Acara dibuka dengan penuh khidmat melalui sambutan Ketua Yayasan Dwijendra Denpasar, yang menegaskan pentingnya pelestarian budaya sebagai sarana pembentukan karakter generasi muda.

Kemeriahan semakin terasa saat setiap unit menampilkan pementasan tari terbaiknya. Gerak yang selaras, kostum yang memukau, serta semangat para penampil menghadirkan suasana yang begitu hidup dan memikat perhatian seluruh penonton.
Namun, di antara gemerlap penampilan tersebut, SMP Dwijendra Denpasar tampil mencuri perhatian dengan konsep yang tidak hanya megah secara visual, tetapi juga dalam makna yang mendalam. Mengusung tema “MULAT SARIRA”, SMP Dwijendra menghadirkan sebuah refleksi tajam tentang perjalanan manusia dalam mengenali dan menaklukkan dirinya sendiri.




Ogoh-ogoh yang ditampilkan menggambarkan sosok manusia berkepala hewan singa, babi, gorila, hingga Pohon yang melambangkan berbagai sifat liar, nafsu, dan sisi gelap dalam diri manusia. Visual yang kuat ini seolah mengajak penonton untuk bercermin, menyadari bahwa dalam setiap diri manusia terdapat potensi kebaikan sekaligus keburukan.

Puncak dramatis dari penampilan ini terletak pada hadirnya sosok dewi dengan dua sisi yang kontras: dewi baik dan dewi jahat. Dalam satu tubuh, dua karakter itu hidup berdampingan, menggambarkan pergulatan batin yang tak pernah usai. Cahaya dan kegelapan, kebajikan dan keangkaraan—semuanya menjadi satu kesatuan yang harus dikendalikan melalui kesadaran diri.
Dengan balutan musik, gerak, dan visual yang kuat, penampilan ini tidak sekadar menjadi tontonan, melainkan sebuah pengalaman reflektif yang menyentuh. Setiap detail ogoh-ogoh dan alur pementasan dirancang dengan penuh dedikasi oleh kolaborasi antara guru dan siswa SMP Dwijendra, menjadikan karya ini sebagai bukti nyata sinergi pendidikan dan budaya.
Pagelaran ini juga merupakan wujud nyata dari kegiatan ko-kurikuler siswa SMP Dwijendra Denpasar yang berkolaborasi erat dengan para guru sebagai koordinator. Para siswa menunjukkan antusiasme dan semangat yang luar biasa dalam setiap proses persiapan, mulai dari menata tabuh, melatih tarian, hingga merancang dan membuat ogoh-ogoh. Seluruh rangkaian tersebut tidak hanya melatih kreativitas, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab, kerja sama, dan kecintaan terhadap budaya.
Melalui “Mulat Sarira”, SMP Dwijendra Denpasar menegaskan bahwa seni bukan sekadar ekspresi, melainkan cermin kehidupan. Sebuah ajakan untuk berani melihat ke dalam diri, memperbaiki kekurangan, dan memilih jalan kebaikan di tengah dinamika kehidupan.




