- berita

Sejarah Hari Raya Galungan & Maknanya Bagi Umat Hindu-Bali

Sejarah Galungan

Sejarah Hari Raya Galungan terkait erat dengan mitologi Hindu-Bali. Dikutip dari situs resmi Desa Sangeh yang selaras dengan catatan dalam naskah Purana Bali Dwipa, Galungan pertamakali dirayakan pada malam bulan purnama tanggal 15, tahun Saka 804 atau 882 Masehi. Namun, ritual perayaan ini sempat terhenti selama bertahun-tahun. Akibatnya, raja-raja yang berkuasa di Bali kala itu banyak yang wafat dalam usia muda. Selain itu, Pulau Dewata juga terus-menerus diguncang berbagai bencana, demikian dikisahkan dalam Lontar Sri Jayakasunu. Hingga akhirnya, pada masa pemerintahan Raja Sri Jayakasunu, perayaan Galungan diadakan kembali. Awalnya, sang raja heran mengapa raja-raja sebelumnya berumur pendek dan Bali sering dilanda musibah.

Raja Sri Jayakasunu pun bersemedi. Dalam pertapaannya, ia mendapat bisikan yang dipercaya berasal dari Dewi Durga. Dari wangsit itu, terkuak alasan mengenai berbagai keanehan yang terjadi selama ini, yaitu karena rakyat Bali sudah melupakan peringatan Galungan.

Atas perintah Raja Sri Jayakasunu, perayaan Galungan kembali dihidupkan, dan terus diadakan secara turun-temurun hingga saat ini. Meskipun bagi sebagian orang sejarah Hari Raya Galungan barangkali dianggap kurang bisa dilogika, umat rakyat Hindu-Bali sangat mempercayainya.

Mitologi Galungan

Ada kisah berbalut mitos yang dipercaya oleh umat Hindu-Bali tentang awal mula perayaan Galungan. Tulisan I Gede Marayana yang terhimpun dalam buku Galungan Naramangsa (2005) memaparkan mengenai mitos ini. Secara mitologi, tulis Marayana, dahulu di Bali ada seorang raja angkara murka bernama Mayadenawa. Raja yang sangat sakti ini kerap berbuat adharma atau kejahatan. Dengan kesaktiannya, Mayadenawa tak hanya menguasai Bali, tapi juga Pulau Lombok, Blambangan (Banyuwangi), bahkan hingga tanah Bugis (sebagian Sulawesi).

Lantaran merasa paling sakti, Mayadenawa memerintahkan rakyatnya untuk menyembah dirinya. Dewa-dewa dilarang disembah, bahkan banyak pura dan tempat peribadatan yang dihancurkan atas perintah raja lalim itu. Kelakukan Mayadenawa yang sudah melampaui batas membuat rakyat resah. Hingga akhirnya, seorang pemuka agama yang juga Pemangku Agung Pura Besakih bernama Mpu Sangkul Putih bersemedi untuk memohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Mpu Sangkul Putih akhirnya mendapat ilham. Ia diberi petunjuk agar pergi ke Jawa Dwipa atau India untuk meminta bantuan. Mpu Sangkul Putih melaksanakan wangsit yang didapatnya itu, dan akhirnya mendapat bantuan.

Menurut mitologinya, bantuan itu diberikan oleh Dewa Indra, dewa yang menguasai cuaca. Singkat cerita, terjadilah pertempuran hebat antara kubu Mayadenawa dan pasukan milik Dewa Indra. Pasukan pimpinan Mayadenawa kewalahan. Raja yang kejam itu beberapa kali melakukan tindakan licik. Namun, tetap saja Mayadenawa kalah. Mitologi inilah yang menjadi dasar peringatan Hari Raya Galungan, bahwa dharma atau kebaikan akan mampu mengalahkan adharma alias kejahatan

Filosofi Galungan

Seperti yang digambarkan dalam mitologinya, Hari Raya Galungan dirayakan untuk memperingati kemenangan Dewa Indra melawan Mayadenawa atau kebaikan melawan kejahatan. Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat –majelis organisasi umat Hindu Indonesia yang mengurusi kepentingan keagamaan dan sosial– melalui website resminya menjelaskan, inti dari Galungan sebenarnya adalah bahwa manusia harus mampu mengendalikan hawa nafsu yang bisa mengganggu ketenteraman batin dan kehidupan. Hawa nafsu manusia tersebut dibagi menjadi tiga kala, yang pertama adalah Kala Amangkurat, Kala Dungulan, dan Kala Galungan.

Kala Amangkurat adalah nafsu ingin berkuasa yang berujung pada keserakahan, ingin memerintah, dan ingin mempertahankan kekuasaan kendati menyimpang. Kala Dungulan yaitu nafsu ingin merebut semua yang dimiliki orang lain. Sedangkan Kala Galungan adalah nafsu menang dengan menghalalkan segala cara.

Selain itu, perayaan Galungan juga mengandung makna sebagai ungkapan rasa syukur umat Hindu kepada atas segala karunia yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. (https://tirto.id/sejarah-hari-raya-galungan-maknanya-bagi-umat-hindu-bali-eeXH)

Setelah membaca, anak – anak wajib mengisi form literasi dengan menekan tautan ini di bawah ini.

http://bit.ly/gerakanliterasiapril-juni

About Humas Division

Read All Posts By Humas Division

726 thoughts on “Sejarah Hari Raya Galungan & Maknanya Bagi Umat Hindu-Bali

  1. Sejarah Galungan

    Sejarah Hari Raya Galungan terkait erat dengan mitologi Hindu-Bali. Dikutip dari situs resmi Desa Sangeh yang selaras dengan catatan dalam naskah Purana Bali Dwipa, Galungan pertamakali dirayakan pada malam bulan purnama tanggal 15, tahun Saka 804 atau 882 Masehi. Namun, ritual perayaan ini sempat terhenti selama bertahun-tahun. Akibatnya, raja-raja yang berkuasa di Bali kala itu banyak yang wafat dalam usia muda.

    1. Sejarah Hari Raya Galungan & Maknanya Bagi Umat Hindu-Bali
      Sejarah Galungan

      Sejarah Hari Raya Galungan terkait erat dengan mitologi Hindu-Bali. Dikutip dari situs resmi Desa Sangeh yang selaras dengan catatan dalam naskah Purana Bali Dwipa, Galungan pertamakali dirayakan pada malam bulan purnama tanggal 15, tahun Saka 804 atau 882 Masehi. Namun, ritual perayaan ini sempat terhenti selama bertahun-tahun. Akibatnya, raja-raja yang berkuasa di Bali kala itu banyak yang wafat dalam usia muda. Selain itu, Pulau Dewata juga terus-menerus diguncang berbagai bencana, demikian dikisahkan dalam Lontar Sri Jayakasunu. Hingga akhirnya, pada masa pemerintahan Raja Sri Jayakasunu, perayaan Galungan diadakan kembali. Awalnya, sang raja heran mengapa raja-raja sebelumnya berumur pendek dan Bali sering dilanda musibah.

      Raja Sri Jayakasunu pun bersemedi. Dalam pertapaannya, ia mendapat bisikan yang dipercaya berasal dari Dewi Durga. Dari wangsit itu, terkuak alasan mengenai berbagai keanehan yang terjadi selama ini, yaitu karena rakyat Bali sudah melupakan peringatan Galungan.

      Atas perintah Raja Sri Jayakasunu, perayaan Galungan kembali dihidupkan, dan terus diadakan secara turun-temurun hingga saat ini. Meskipun bagi sebagian orang sejarah Hari Raya Galungan barangkali dianggap kurang bisa dilogika, umat rakyat Hindu-Bali sangat mempercayainya.

      Mitologi Galungan

      Ada kisah berbalut mitos yang dipercaya oleh umat Hindu-Bali tentang awal mula perayaan Galungan. Tulisan I Gede Marayana yang terhimpun dalam buku Galungan Naramangsa (2005) memaparkan mengenai mitos ini. Secara mitologi, tulis Marayana, dahulu di Bali ada seorang raja angkara murka bernama Mayadenawa. Raja yang sangat sakti ini kerap berbuat adharma atau kejahatan. Dengan kesaktiannya, Mayadenawa tak hanya menguasai Bali, tapi juga Pulau Lombok, Blambangan (Banyuwangi), bahkan hingga tanah Bugis (sebagian Sulawesi).

      Lantaran merasa paling sakti, Mayadenawa memerintahkan rakyatnya untuk menyembah dirinya. Dewa-dewa dilarang disembah, bahkan banyak pura dan tempat peribadatan yang dihancurkan atas perintah raja lalim itu. Kelakukan Mayadenawa yang sudah melampaui batas membuat rakyat resah. Hingga akhirnya, seorang pemuka agama yang juga Pemangku Agung Pura Besakih bernama Mpu Sangkul Putih bersemedi untuk memohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Mpu Sangkul Putih akhirnya mendapat ilham. Ia diberi petunjuk agar pergi ke Jawa Dwipa atau India untuk meminta bantuan. Mpu Sangkul Putih melaksanakan wangsit yang didapatnya itu, dan akhirnya mendapat bantuan.

      Menurut mitologinya, bantuan itu diberikan oleh Dewa Indra, dewa yang menguasai cuaca. Singkat cerita, terjadilah pertempuran hebat antara kubu Mayadenawa dan pasukan milik Dewa Indra. Pasukan pimpinan Mayadenawa kewalahan. Raja yang kejam itu beberapa kali melakukan tindakan licik. Namun, tetap saja Mayadenawa kalah. Mitologi inilah yang menjadi dasar peringatan Hari Raya Galungan, bahwa dharma atau kebaikan akan mampu mengalahkan adharma alias kejahatan

      Filosofi Galungan

      Seperti yang digambarkan dalam mitologinya, Hari Raya Galungan dirayakan untuk memperingati kemenangan Dewa Indra melawan Mayadenawa atau kebaikan melawan kejahatan. Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat –majelis organisasi umat Hindu Indonesia yang mengurusi kepentingan keagamaan dan sosial– melalui website resminya menjelaskan, inti dari Galungan sebenarnya adalah bahwa manusia harus mampu mengendalikan hawa nafsu yang bisa mengganggu ketenteraman batin dan kehidupan. Hawa nafsu manusia tersebut dibagi menjadi tiga kala, yang pertama adalah Kala Amangkurat, Kala Dungulan, dan Kala Galungan.

      Kala Amangkurat adalah nafsu ingin berkuasa yang berujung pada keserakahan, ingin memerintah, dan ingin mempertahankan kekuasaan kendati menyimpang. Kala Dungulan yaitu nafsu ingin merebut semua yang dimiliki orang lain. Sedangkan Kala Galungan adalah nafsu menang dengan menghalalkan segala cara.

      Selain itu, perayaan Galungan juga mengandung makna sebagai ungkapan rasa syukur umat Hindu kepada atas segala karunia yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. (https://tirto.id/sejarah-hari-raya-galungan-maknanya-bagi-umat-hindu-bali

  2. Sejarah Hari Raya Galungan terkait erat dengan mitologi Hindu-Bali. Dikutip dari situs resmi Desa Sangeh yang selaras dengan catatan dalam naskah Purana Bali Dwipa, Galungan pertamakali dirayakan pada malam bulan purnama tanggal 15, tahun Saka 804 atau 882 Masehi. Namun, ritual perayaan ini sempat terhenti selama bertahun-tahun. Akibatnya, raja-raja yang berkuasa di Bali kala itu banyak yang wafat dalam usia muda. Selain itu, Pulau Dewata juga terus-menerus diguncang berbagai bencana, demikian dikisahkan dalam Lontar Sri Jayakasunu. Hingga akhirnya, pada masa pemerintahan Raja Sri Jayakasunu, perayaan Galungan diadakan kembali. Awalnya, sang raja heran mengapa raja-raja sebelumnya berumur pendek dan Bali sering dilanda musibah

  3. Sejarah Hari Raya Galungan terkait erat dengan mitologi Hindu-Bali. Dikutip dari situs resmi Desa Sangeh yang selaras dengan catatan dalam naskah Purana Bali Dwipa, Galungan pertamakali dirayakan pada malam bulan purnama tanggal 15, tahun Saka 804 atau 882 Masehi. Namun, ritual perayaan ini sempat terhenti selama bertahun-tahun. Akibatnya, raja-raja yang berkuasa di Bali kala itu banyak yang wafat dalam usia muda. Selain itu, Pulau Dewata juga terus-menerus diguncang berbagai bencana, demikian dikisahkan dalam Lontar Sri Jayakasunu. Hingga akhirnya, pada masa pemerintahan Raja Sri Jayakasunu, perayaan Galungan diadakan kembali. Awalnya, sang raja heran mengapa raja-raja sebelumnya berumur pendek dan Bali sering dilanda musibah

  4. Sejarah Galungan

    Sejarah Hari Raya Galungan terkait erat dengan mitologi Hindu-Bali. Dikutip dari situs resmi Desa Sangeh yang selaras dengan catatan dalam naskah Purana Bali Dwipa, Galungan pertamakali dirayakan pada malam bulan purnama tanggal 15, tahun Saka 804 atau 882 Masehi. Namun, ritual perayaan ini sempat terhenti selama bertahun-tahun. Akibatnya, raja-raja yang berkuasa di Bali kala itu banyak yang wafat dalam usia muda. Selain itu, Pulau Dewata juga terus-menerus diguncang berbagai bencana, demikian dikisahkan dalam Lontar Sri Jayakasunu. Hingga akhirnya, pada masa pemerintahan Raja Sri Jayakasunu, perayaan Galungan diadakan kembali. Awalnya, sang raja heran mengapa raja-raja sebelumnya berumur pendek dan Bali sering dilanda musibah.

    Raja Sri Jayakasunu pun bersemedi. Dalam pertapaannya, ia mendapat bisikan yang dipercaya berasal dari Dewi Durga. Dari wangsit itu, terkuak alasan mengenai berbagai keanehan yang terjadi selama ini, yaitu karena rakyat Bali sudah melupakan peringatan Galungan.

    Atas perintah Raja Sri Jayakasunu, perayaan Galungan kembali dihidupkan, dan terus diadakan secara turun-temurun hingga saat ini. Meskipun bagi sebagian orang sejarah Hari Raya Galungan barangkali dianggap kurang bisa dilogika, umat rakyat Hindu-Bali sangat mempercayainya.

  5. Sejarah Galungan

    Sejarah Hari Raya Galungan terkait erat dengan mitologi Hindu-Bali. Dikutip dari situs resmi Desa Sangeh yang selaras dengan catatan dalam naskah Purana Bali Dwipa, Galungan pertamakali dirayakan pada malam bulan purnama tanggal 15, tahun Saka 804 atau 882 Masehi. Namun, ritual perayaan ini sempat terhenti selama bertahun-tahun. Akibatnya, raja-raja yang berkuasa di Bali kala itu banyak yang wafat dalam usia muda.

  6. Sejarah Hari Raya Galungan & Maknanya Bagi Umat Hindu-Bali
    Sejarah Galungan

    Sejarah Hari Raya Galungan terkait erat dengan mitologi Hindu-Bali. Dikutip dari situs resmi Desa Sangeh yang selaras dengan catatan dalam naskah Purana Bali Dwipa, Galungan pertamakali dirayakan pada malam bulan purnama tanggal 15, tahun Saka 804 atau 882 Masehi. Namun, ritual perayaan ini sempat terhenti selama bertahun-tahun. Akibatnya, raja-raja yang berkuasa di Bali kala itu banyak yang wafat dalam usia muda. Selain itu, Pulau Dewata juga terus-menerus diguncang berbagai bencana, demikian dikisahkan dalam Lontar Sri Jayakasunu. Hingga akhirnya, pada masa pemerintahan Raja Sri Jayakasunu, perayaan Galungan diadakan kembali. Awalnya, sang raja heran mengapa raja-raja sebelumnya berumur pendek dan Bali sering dilanda musibah.

    Raja Sri Jayakasunu pun bersemedi. Dalam pertapaannya, ia mendapat bisikan yang dipercaya berasal dari Dewi Durga. Dari wangsit itu, terkuak alasan mengenai berbagai keanehan yang terjadi selama ini, yaitu karena rakyat Bali sudah melupakan peringatan Galungan.

    Atas perintah Raja Sri Jayakasunu, perayaan Galungan kembali dihidupkan, dan terus diadakan secara turun-temurun hingga saat ini. Meskipun bagi sebagian orang sejarah Hari Raya Galungan barangkali dianggap kurang bisa dilogika, umat rakyat Hindu-Bali sangat mempercayainya.

    Mitologi Galungan

    Ada kisah berbalut mitos yang dipercaya oleh umat Hindu-Bali tentang awal mula perayaan Galungan. Tulisan I Gede Marayana yang terhimpun dalam buku Galungan Naramangsa (2005) memaparkan mengenai mitos ini. Secara mitologi, tulis Marayana, dahulu di Bali ada seorang raja angkara murka bernama Mayadenawa. Raja yang sangat sakti ini kerap berbuat adharma atau kejahatan. Dengan kesaktiannya, Mayadenawa tak hanya menguasai Bali, tapi juga Pulau Lombok, Blambangan (Banyuwangi), bahkan hingga tanah Bugis (sebagian Sulawesi).

    Lantaran merasa paling sakti, Mayadenawa memerintahkan rakyatnya untuk menyembah dirinya. Dewa-dewa dilarang disembah, bahkan banyak pura dan tempat peribadatan yang dihancurkan atas perintah raja lalim itu. Kelakukan Mayadenawa yang sudah melampaui batas membuat rakyat resah. Hingga akhirnya, seorang pemuka agama yang juga Pemangku Agung Pura Besakih bernama Mpu Sangkul Putih bersemedi untuk memohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Mpu Sangkul Putih akhirnya mendapat ilham. Ia diberi petunjuk agar pergi ke Jawa Dwipa atau India untuk meminta bantuan. Mpu Sangkul Putih melaksanakan wangsit yang didapatnya itu, dan akhirnya mendapat bantuan.

    Menurut mitologinya, bantuan itu diberikan oleh Dewa Indra, dewa yang menguasai cuaca. Singkat cerita, terjadilah pertempuran hebat antara kubu Mayadenawa dan pasukan milik Dewa Indra. Pasukan pimpinan Mayadenawa kewalahan. Raja yang kejam itu beberapa kali melakukan tindakan licik. Namun, tetap saja Mayadenawa kalah. Mitologi inilah yang menjadi dasar peringatan Hari Raya Galungan, bahwa dharma atau kebaikan akan mampu mengalahkan adharma alias kejahatan

    Filosofi Galungan

    Seperti yang digambarkan dalam mitologinya, Hari Raya Galungan dirayakan untuk memperingati kemenangan Dewa Indra melawan Mayadenawa atau kebaikan melawan kejahatan. Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat –majelis organisasi umat Hindu Indonesia yang mengurusi kepentingan keagamaan dan sosial– melalui website resminya menjelaskan, inti dari Galungan sebenarnya adalah bahwa manusia harus mampu mengendalikan hawa nafsu yang bisa mengganggu ketenteraman batin dan kehidupan. Hawa nafsu manusia tersebut dibagi menjadi tiga kala, yang pertama adalah Kala Amangkurat, Kala Dungulan, dan Kala Galungan.

    Kala Amangkurat adalah nafsu ingin berkuasa yang berujung pada keserakahan, ingin memerintah, dan ingin mempertahankan kekuasaan kendati menyimpang. Kala Dungulan yaitu nafsu ingin merebut semua yang dimiliki orang lain. Sedangkan Kala Galungan adalah nafsu menang dengan menghalalkan segala cara.

    Selain itu, perayaan Galungan juga mengandung makna sebagai ungkapan rasa syukur umat Hindu kepada atas segala karunia yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. (https://tirto.id/sejarah-hari-raya-galungan-maknanya-bagi-umat-hindu-bali-eeXH)

  7. Galungan pertamakali dirayakan pada malam bulan purnama tanggal 15, tahun Saka 804 atau 882 Masehi. Namun, ritual perayaan ini sempat terhenti selama bertahun-tahun. Akibatnya, raja-raja yang berkuasa di Bali kala itu banyak yang wafat dalam usia muda.

    Tulisan I Gede Marayana yang terhimpun dalam buku Galungan Naramangsa (2005) memaparkan mengenai mitos ini. Secara mitologi, tulis Marayana, dahulu di Bali ada seorang raja angkara murka bernama Mayadenawa. Raja yang sangat sakti ini kerap berbuat adharma atau kejahatan. Dengan kesaktiannya, Mayadenawa tak hanya menguasai Bali, tapi juga Pulau Lombok, Blambangan (Banyuwangi), bahkan hingga tanah Bugis (sebagian Sulawesi).

    Seperti yang digambarkan dalam mitologinya, Hari Raya Galungan dirayakan untuk memperingati kemenangan Dewa Indra melawan Mayadenawa atau kebaikan melawan kejahatan. Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat –majelis organisasi umat Hindu Indonesia yang mengurusi kepentingan keagamaan dan sosial– melalui website resminya menjelaskan, inti dari Galungan sebenarnya adalah bahwa manusia harus mampu mengendalikan hawa nafsu yang bisa mengganggu ketenteraman batin dan kehidupan. Hawa nafsu manusia tersebut dibagi menjadi tiga kala, yang pertama adalah Kala Amangkurat, Kala Dungulan, dan Kala Galungan.

  8. Galungan pertamakali dirayakan pada malam bulan purnama tanggal 15, tahun Saka 804 atau 882 Masehi. Namun, ritual perayaan ini sempat terhenti selama bertahun-tahun. Akibatnya, raja-raja yang berkuasa di Bali kala itu banyak yang wafat dalam usia muda.

    Tulisan I Gede Marayana yang terhimpun dalam buku Galungan Naramangsa (2005) memaparkan mengenai mitos ini. Secara mitologi, tulis Marayana, dahulu di Bali ada seorang raja angkara murka bernama Mayadenawa. Raja yang sangat sakti ini kerap berbuat adharma atau kejahatan. Dengan kesaktiannya, Mayadenawa tak hanya menguasai Bali, tapi juga Pulau Lombok, Blambangan (Banyuwangi), bahkan hingga tanah Bugis (sebagian Sulawesi).

    Seperti yang digambarkan dalam mitologinya, Hari Raya Galungan dirayakan untuk memperingati kemenangan Dewa Indra melawan Mayadenawa atau kebaikan melawan kejahatan. Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat –majelis organisasi umat Hindu Indonesia yang mengurusi kepentingan keagamaan dan sosial– melalui website resminya menjelaskan, inti dari Galungan sebenarnya adalah bahwa manusia harus mampu mengendalikan hawa nafsu yang bisa mengganggu ketenteraman batin dan kehidupan. Hawa nafsu manusia tersebut dibagi menjadi tiga kala, yang pertama adalah Kala Amangkurat, Kala Dungulan, dan Kala Galungan

  9. Sejarah Hari Raya Galungan terkait erat dengan mitologi Hindu-Bali. Dikutip dari situs resmi Desa Sangeh yang selaras dengan catatan dalam naskah Purana Bali Dwipa, Galungan pertamakali dirayakan pada malam bulan purnama tanggal 15, tahun Saka 804 atau 882 Masehi. Namun, ritual perayaan ini sempat terhenti selama bertahun-tahun. Akibatnya, raja-raja yang berkuasa di Bali kala itu banyak yang wafat dalam usia muda. Selain itu, Pulau Dewata juga terus-menerus diguncang berbagai bencana, demikian dikisahkan dalam Lontar Sri Jayakasunu. Hingga akhirnya, pada masa pemerintahan Raja Sri Jayakasunu, perayaan Galungan diadakan kembali. Awalnya, sang raja heran mengapa raja-raja sebelumnya berumur pendek dan Bali sering dilanda musibah.

  10. Sejarah Hari Raya Galungan terkait erat dengan mitologi Hindu-Bali. Dikutip dari situs resmi Desa Sangeh yang selaras dengan catatan dalam naskah Purana Bali Dwipa, Galungan pertamakali dirayakan pada malam bulan purnama tanggal 15, tahun Saka 804 atau 882 Masehi. Namun, ritual perayaan ini sempat terhenti selama bertahun-tahun. Akibatnya, raja-raja yang berkuasa di Bali kala itu banyak yang wafat dalam usia muda. Selain itu, Pulau Dewata juga terus-menerus diguncang berbagai bencana, demikian dikisahkan dalam Lontar Sri Jayakasunu. Hingga akhirnya, pada masa pemerintahan Raja Sri Jayakasunu, perayaan Galungan diadakan kembali. Awalnya, sang raja heran mengapa raja-raja sebelumnya berumur pendek dan Bali sering dilanda musibah.

    Raja Sri Jayakasunu pun bersemedi. Dalam pertapaannya, ia mendapat bisikan yang dipercaya berasal dari Dewi Durga. Dari wangsit itu, terkuak alasan mengenai berbagai keanehan yang terjadi selama ini, yaitu karena rakyat Bali sudah melupakan peringatan Galungan.

  11. Sejarah Hari Raya Galungan terkait erat dengan mitologi Hindu-Bali. Dikutip dari situs resmi Desa Sangeh yang selaras dengan catatan dalam naskah Purana Bali Dwipa, Galungan pertamakali dirayakan pada malam bulan purnama tanggal 15, tahun Saka 804 atau 882 Masehi. Namun, ritual perayaan ini sempat terhenti selama bertahun-tahun. Akibatnya, raja-raja yang berkuasa di Bali kala itu banyak yang wafat dalam usia muda. Selain itu, Pulau Dewata juga terus-menerus diguncang berbagai bencana, demikian dikisahkan dalam Lontar Sri Jayakasunu. Hingga akhirnya, pada masa pemerintahan Raja Sri Jayakasunu, perayaan Galungan diadakan kembali. Awalnya, sang raja heran mengapa raja-raja sebelumnya berumur pendek dan Bali sering dilanda musibah.

    Raja Sri Jayakasunu pun bersemedi. Dalam pertapaannya, ia mendapat bisikan yang dipercaya berasal dari Dewi Durga. Dari wangsit itu, terkuak alasan mengenai berbagai keanehan yang terjadi selama ini, yaitu karena rakyat Bali sudah melupakan peringatan Galungan.

    Atas perintah Raja Sri Jayakasunu, perayaan Galungan kembali dihidupkan, dan terus diadakan secara turun-temurun hingga saat ini. Meskipun bagi sebagian orang sejarah Hari Raya Galungan barangkali dianggap kurang bisa dilogika, umat rakyat Hindu-Bali sangat mempercayainya.

    Mitologi Galungan

    Ada kisah berbalut mitos yang dipercaya oleh umat Hindu-Bali tentang awal mula perayaan Galungan. Tulisan I Gede Marayana yang terhimpun dalam buku Galungan Naramangsa (2005) memaparkan mengenai mitos ini. Secara mitologi, tulis Marayana, dahulu di Bali ada seorang raja angkara murka bernama Mayadenawa. Raja yang sangat sakti ini kerap berbuat adharma atau kejahatan. Dengan kesaktiannya, Mayadenawa tak hanya menguasai Bali, tapi juga Pulau Lombok, Blambangan (Banyuwangi), bahkan hingga tanah Bugis (sebagian Sulawesi).

    Lantaran merasa paling sakti, Mayadenawa memerintahkan rakyatnya untuk menyembah dirinya. Dewa-dewa dilarang disembah, bahkan banyak pura dan tempat peribadatan yang dihancurkan atas perintah raja lalim itu. Kelakukan Mayadenawa yang sudah melampaui batas membuat rakyat resah. Hingga akhirnya, seorang pemuka agama yang juga Pemangku Agung Pura Besakih bernama Mpu Sangkul Putih bersemedi untuk memohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Mpu Sangkul Putih akhirnya mendapat ilham. Ia diberi petunjuk agar pergi ke Jawa Dwipa atau India untuk meminta bantuan. Mpu Sangkul Putih melaksanakan wangsit yang didapatnya itu, dan akhirnya mendapat bantuan.

  12. Pingback: ww88com
  13. Pingback: magic mushroom
  14. Pingback: mega888 digi
  15. Pingback: kardinal stick
  16. Pingback: Dark0de Market
  17. Pingback: elangqq poker
  18. Pingback: relx
  19. Pingback: cam4 eifelady
  20. Pingback: dmt carts,
  21. Pingback: iptv
  22. Pingback: sbobet
  23. Pingback: hindi movie online
  24. Pingback: sbo
  25. Pingback: ytconvert.tools
  26. Pingback: for details
  27. Pingback: Dark Net
  28. Pingback: Buy Cocaine Online
  29. Pingback: baixar
  30. Pingback: Key Wall Safe
  31. Pingback: check my reference
  32. Pingback: ytmp3
  33. Pingback: visite o site
  34. To presume from actual scoop, adhere to these tips:

    Look for credible sources: http://fcdoazit.org/img/pgs/?what-news-does-balthasar-bring-to-romeo.html. It’s high-ranking to ensure that the expos‚ source you are reading is reputable and unbiased. Some examples of reputable sources categorize BBC, Reuters, and The New York Times. Review multiple sources to get back at a well-rounded sentiment of a particular low-down event. This can better you get a more ideal display and escape bias. Be in the know of the viewpoint the article is coming from, as flush with reputable telecast sources can compel ought to bias. Fact-check the dirt with another origin if a news article seems too unequalled or unbelievable. Always make unshakeable you are reading a known article, as tidings can change quickly.

    Nearby following these tips, you can befit a more informed rumour reader and more wisely understand the everybody here you.

  35. п»їlegitimate online pharmacies india [url=https://indianpharmacy.life/#]cheapest online pharmacy[/url] Online medicine home delivery